Masa Depanku Cerah

Islam mengajarkan sikap optimis dalam urusan rizqi. Karena rizqi adalah termasuk salah satu perkara yang telah dituliskan Allah Azza wa Jalla ketika janin masih berusia 120 hari dalam kandungan ibunya. Maka dari itu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

(لاَ تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوتَ العبدُ حتىَّ يَبْلُغَهُ آخِرَ رزقٍ هو لَه، فَأجملُوا فِي الطَّلبِ: أَخْذُ الحَلالِ، وَتَرْكُ الحَرَام ( رواه ابن ماجة

“Jangan engkau pernah merasa rizqimu terlambat datang, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia usai menikmati rizqi terakhir (yang telah ditentukan untuknya). Karenanya tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” (Riwayat  Ibnu Majah).

Sehingga tidak selayaknya dalam urusan rizqi ini seorang muslim menangisi masa lalunya dengan tangisan berkepanjangan sehingga seolah-olah dunia ini sempit. Padahal masa lalu seharusnya disyukuri dan diambil pelajarannya agar menjadi lebih baik pada perjalanan berikutnya. Begitu juga tidak semestinya seorang muslim takut akan masa depannya seakan-akan tidak ada jatah rizqi untuknya. Jika Iman goyah, maka seseorang bisa loyo, atau bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan rizqinya.

Jadilah Mukmin yang Kuat!

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah memperingatkan kepada umatnya bahwa:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Upayakan segala yang berguna bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah. Jangan engkau pernah merasa lemah. Bila ditimpa sesuatu jangan engkau katakan: ‘andai aku berbuat demikian, niscaya akan demikian dan demikian’. Namun katakan: ‘semuanya telah ditakdirkan, dan segala yang Allah kehendaki pasti terjadi’. Karena ucapan ‘andai’ hanya membuka kesempatan  bagi setan untuk menggoda.” (HR Muslim)

Dengan menjadi mukmin yang kuat, tidak lemah, niscaya akan senantiasa bersemangat melakukan segala sesuatu yang berguna. Dan beliau shallallahu’alaihi wasallam melarang seorang mukmin larut dengan penyesalan masa lalu hingga berandai-andai, karena hanya membuka pintu bagi setan untuk mempermainkannya. Maka bersyukurlah dengan adanya sifat lupa. Bisa dibayangkan jika manusia tidak mempunyai sifat lupa, maka akan senantiasa menangisi masa lalunya karena ingat setiap saat.

Do’a adalah senjata ampuh seorang mukmin. Maka dari itu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan sebuah do’a untuk berlindung dari sifat-sifat yang tidak selayaknya subur pada diri seorang mukmin. Rasulullah shallallahu’alahi wasallam bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sejatinya aku berlindung kepada-Mu dari :

1. (al ham) gundah

2. (Al Hazan) duka karena penyesalan

3. Tidak berdaya (lemah semangat),

4. Malas,

5. Kikir,

6. Penakut,

7. Terlillit piutang dan

8. Penindasan orang lain.”  (HR. Bukhari)

Sungguh do’a yang luar biasa, meliputi perlindungan dari sifat-sifat rendah dan lemah, sehingga yang diharapkan adalah sebaliknya, yaitu sifat-sifat yang kuat.

Masa lalu seharusnya menjadi cermin dan sebagai pelajaran agar kegagalan yang serupa tidak terjadi. Karena Rasulullah shallallahu’alahi wasallam bersabda:

 لا يلدغ المؤمن من جحر مرتين

“Orang yang beriman tidak mungkin disengat dua kali dalam satu lubang”. (HR. Ibnu Majah)

Belajar dari Masa Lalu

Cukuplah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjadi cerita yang menginspirasi dan memotivasi, bagaimana berbagai musibah di masa lalu tidak menjadikan Yusuf lemah serta putus asa, akan tetapi justru menjadi lembaran-lembaran pelajaran hingga menjadi manusia yang mulia dan dimuliakan. Nabi Yusuf bangkit dan sukses di masa depannya.

اقْتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُواْ مِن بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ . قَالَ قَآئِلٌ مَّنْهُمْ لاَ تَقْتُلُواْ يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ

“Bunuhlah Yusuf atau asingkan dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Seseorang di antara mereka berkata: Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.“ (Yusuf 10)

Lihatlah apa yang terjadi pada Yusuf kecil. Dia hendak dibunuh oleh saudara-saudaranya, lalu kemudian dibuang supaya dipungut oleh musafir dan dijadikan budak. Perjalanan Yusuf pun berpindah dari anak kecil yang dibuang, lalu menjadi budak, dan seterusnya melalui berbagai cobaan. Akan tetapi berkat kesabaran Yusuf, akhirnya dia menjadi manusia yang mulia di jamannya.

وَكَذَلِكَ مَكَّنِّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاء نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَن نَّشَاء وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf 56)

Kemuliaan Yusuf telah tertulis dalam takdirnya. Akan tetapi tentu saja Yusuf tidak mengetahuinya. Dia tidak berkeluh kesah, tidak juga meratapi masa lalunya, melainkan dia terus bangkit untuk menyongsong masa depan yang memang telah dipersiapkan untuknya, sehingga segala usaha untuk menjauhkan kemuliaan itu darinya tidak berhasil memisahkan darinya.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ.

“Ketahuilah: andai seluruh umat bersatu padu guna menolongmu, niscaya  mereka tidak kuasa melakukannya selain sesuatu yang telah digariskan untukmu. Dan sebaliknya, andai mereka bersekongkol ingin mencelakakanmu, niscaya mereka tidak kuasa melakukannya, selain sesuatu yang telah digariskan menimpamu. Pena penulis takdir telah diangkat dan lembaran takdir telah kering (usai ditulis)”.

Mengukir Nasib, bukan Mengadu Nasib!

Benar, pena telah kering, takdir kita telah selesai dicatat. Akan tetapi kita tidak pernah tahu. Maka dengan memahami dan meyakini hal ini, niscaya kita tidak perlu gundah dengan masa lalu serta tidak perlu takut akan masa depan. Yang perlu kita lalukan adalah berusaha, mengusahakan yang terbaik untuk menyusun masa depan kita. Tidak ada istilah mengadu nasib, yang ada adalah mengukir nasib.

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar Ra’du 11)

Meskipun kita yakin takdir telah ditulis, kita tidak boleh berpangku tangan, melainkan harus berusaha mengubah nasib kita sendiri. Jangan lewatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan segala sesuatu yang baik, meskipun kiamat akan datang.

إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

“Bila Qiyamat datang, sedangkan di tanganmu terdapat tunas pohon, maka bila engkau sempat untuk menanamnya, maka tanamlah sebelum Qiyamat benar-benar tiba.” (HR. Ahmad)

Jikapun kita mengalami kegagalan demi kegagalan, sedangkan kita mengamati orang lain menerima keberhasilan demi keberhasilan, maka yakinlah bahwa semua itu akan dipergilirkan.

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim” (Ali Imran 140)

أبو الفوارس جنيد بن أحمد الطبري : ـ العبد ذو ضجر و الرب ذو قدر و الدهر ذو دول و الرزق مقسوم

Abul Fawaris Junaid bin Ahmad At Thabari berkata:

“Manusia senang berkeluh kesah,

Sedang Allah Maha Kuasa Menentukan,

Dunia terus berputar

Dan rejeki telah dibagi-bagi.” (Al Baihaqy)

—————————————————————————————————–

Catatan Kajian ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi MA dalam daurohnya di Muscat, Oman bertempat di KBRI Muscat. Sabtu 28 Januari 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s